Informasi

HUT RI – Mari Bung . . . Rebut Kembali !

Informasi dan Potensi – Salah satu peserta karnaval memperingati HUT ke-66 RI, dengan mengenakan baju adat melintas di jalan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Kamis (11/8-yahoo.co.id). Peserta karnaval mulai dari tingkat TK, SD, SMP, SMA/SMK, serta para Paguyuban di Wamena, dengan menampilkan berbagai atraksi seperti perang-perangan dan tarian.

Itu adalah salah satu bagian dari semarak dan semangat memperingati hari kemerdekaan RI dibagian Indonesia timur, hampir disemua penjuru tanah air secara serempak merayakan hari jadi negara Indonesia. Dari berbagai acara diadakan dalam rangka HUT Kemerdekaan itu tidak lepas adalah bentuk semangat kebersamaan dalam wadah NKRI.

Hanya sebagian kecil warga bangsa yang memandang HUT RI tidak begitu penting bahkan mungkin bersikap acuh tak acuh. Hal inilah yang perlu dipertanyakan kenapa ?, mungkin mereka menganggap peringatan tujuh belasan hanya seremonial belaka atau sesuatu yang sudah sangat biasa. Anggapan itu mungkin terjadi karena mereka tidak memiliki rasa kebangsaan atau nasionalisme, kalaupun ada setidaknya sudah mulai luntur.

Jika kita mau menengok sejarah, sikap seperti itu sangat tidak layak dan mengecewakan, kita lihat semangat cinta tanah air yang telah dicontohkan oleh para pejuang, mereka telah mengorbankan jiwa raga dan semua yang mereka miliki demi satu kata dan keadaan MERDEKA dari cengkeraman penjajah demi kehidupan yang bebas dari ketertindasan, kebodohan, keterpurukan, terutama demi anak cucu dan generasi penerus bangsa seperti kita agar bisa hidup sejajar dengan bangsa lain.

Pemahaman akan sejarah semestinya menjadi salah satu metode pendidikan atau kurikulum dalam dunia berbangsa, penanaman sikap kebangsaan semestinya disertakan dalam semua kegiatan penyelenggaraan pemerintahan, kehidupan bermasyarakat, birokrasi swasta, dan sebagai syarat seseorang mendapatkan hak secara hukum/kewarganegaraan. Hal ini menjadi tanggung jawab pemerintah, tokoh masyarakat, dan kita sebagai warga negara, kenapa . . ?.

Karena jika kita tidak memiliki kesadaran dan tidak memiliki tanggung jawab akan hal ini, sudah tentu bangsa kita akan runtuh, akan direbut kembali oleh “penjajah modern” dengan berbagai bentuk penjajahan berkedok modernisasi, hak asasi  manusia, paham materialisme, liberalisme,konsumerisme, dan lain-lain.

Penulis menarik kebelakang beberapa tahun ketika kakeknya masih hidup, 20 tahun yang lalu. . . . “Adalah kakeknya seorang biasa dan  jujur bersahaja. Namun dibalik itu tergambar begitu banyak pelajaran akan jiwa nasionalisme. Beliau adalah Mbah Sanardjo (panggilan akrabnya), seorang pejuang kemerdekaan pengusiran Belanda, kemudian terdaftar sebagai tentara PETA, pernah menjadi Opas/polisi pamong praja kecamatan setelah merdeka. Tanggal 17 bulan Agustus adalah “hari ulang tahunya”, demikian seakan Beliau menyambut hari yang sangat istimewa, tergopoh menyiapkan atribut umbul-umbul kemerdekaan, gapura di oker (cat dari kapur) merah putih dari bambu di pintu gerbang rumah kayunya, bendera besar menjulang diantara gapura, memotong tanaman pagar rumahnya, demikian juga rumah anak-anaknya yang berada berderet dikanan kirinya dihias serupa.

Hari 17 tiba, subuh sudah siap dengan pakaian ala tentara jaman dulu bersiap mengikuti upacara HUT RI di lapangan kecamatan bersama “sisa kesatuanya”, roman mukanya tersirat kebanggaan dan kesigapan. Dalam keseharian selalu bersikap disiplin diri mulai dari bangun subuh, membersihkan pekarangan sekitar rumah, mengontrol kebersihan jalan umum didepan rumahnya, membersihkan saluran irigasi, menanam dan memelihara berbagai pohon penghijauan disepanjang jalan umum didepan rumahnya kira-kira sepanjang 1km, dan kegiatan masyarakat lainya.

Beliau tidak pernah mengeluh atas kekurangan materi bahkan berusaha memberi apapun yang dimilikinya terutama untuk kepentingan orang banyak. Sikap dan aktivitas itu dikerjakan dengan semangat dan serius seakan menjadi tugas pokoknya dalam kehidupannya sampai ketika kedua tanganya tidak sanggup lagi mengangkat cangkul “senjata perangnya” karena kerentaan fisiknya, sampai peristirahatanya yang terakhir di makam Desa Simbang.

Beliau pernah bercerita ketika terlibat pertempuran di palagan Ambarawa, bersembunyi berhari-hari dalam hutan, berendam di Rawa Pening siang malam dalam penyerangan markas Belanda di markas Banyubiru. Untuk mencapai Banyubiru Beliau bersama kesatuanya telah berjalan kaki dari markas asalnya yang berada di daerah Banyumas, terbayangkah anda ? jarak tempuh Banyumas-Banyubiru/Ambarawa sekarang menggunakan kendaraan roda empat memerlikan waktu 4 jam.

Sesampai dimedan laga dengan bersenjata seadanya melawan musuh dengan senapan modern dan meriam canggih ?, alangkah berat resiko yang harus dihadapi. Tuhan ternyata masih menghendaki “pejuang” ini pulang kemarkas dan kampung halamanya dengan selamat di Desa Simbang, Mandiraja-Banjarnegara, beserta beberapa sejawatnya diantaranya ada yang tanganya buntung, kaki hilang sebelah, dan “nama temanya” yang jasadnya gugur menjadi kusuma bangsa . . . .”

HUT RI dan Sekelumit cerita kenangan itu bisa menggambarkan apa sebenarnya jiwa nasionalisme dan rasa kebangsaan sebenarnya, bagaimana semestinya kita “anak cucu pejuang” bangsa itu bersikap dan berbuat. Di era merdeka ini kita sekedar mengenang dengan menyemarakan HUT RI adalah sikap yang paling ringan dan mudah tanpa beban dan resiko apapun. Namun yang lebih berat adalah beban tanggung jawab sebagai penerus perjuangan para pejuang bangsa itu dalam mengisi dan mempertahankan kemerdekaan dari “penjajah era komputer” ini. Mari Bung . . . rebut kembali . . . .

(Pang Budito – http://artsandworlds.blogspot.com)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Twitter

  • UNESCO; Al Aqsa Situs Suci Umat Islam: MCI News - Media Cakrawala Indonesia Media Cakrawala Indonesia – Berita Pendidikan. UNESCO; Al... 1 month ago
  • Pengukuhan Lembaga Pemangku Adat Kesulthanan Banten: MCI News - Media Cakrawala Indonesia Media Cakrawala Indonesia – Berita Baru. Pe... 1 month ago
%d bloggers like this: